Senin, 23 Juni 2008

PERTEMUAN FAKULTAS HUKUM ANGKATAN 2004 (..hanya persepsi masing-masing individu/kelompok...)

Pertemuan angkatan 2004 dalam keluarga besarku di Fakultas Hukum UNS, tanggal 19 Juni 2008. Hal yang sebetulnya menjadi ajang untuk menyatukan tekad dan menjalin ikatan di sini malah menjadi ajang yang penuh dengan kata-kata yang negatif dan memberikan kesan suram dalam pertemuan itu. Meski sebenarnya teamn-teman tidak memiliki niat untuk itu, tetapi 'kesan' yang saya rasakan bukanlah seperti yang saya harapkan.
kembali isu yang muncul adalah tentang perpecahan angkatan, dengan munculnya kembali tentang wacana 'genk-genk' yang terbentuk di angkatan. Menurut saya seharusny7a itu tidak muncul lagi, yang menjadi pokok dari acara tersebut seharusnya adalah bagaimana angkatan memioiki visi dsan misi ke depan sehingga bentuk angkatan ini menjadi lebih solid dan bisa menjadi komunitas intelektual yang dapat menjadi kebanggaan bagi tiap-tiap anggota angkatan 2004.

Selasa, 17 Juni 2008

egoisme pemikiran

PErbedaan pemikiran merupakan hal yang sangat lumrah dalam kehidupan sosial manusia. Hal ini merupakan sikap alamiah manusia yang didasarkan pada pola pikir dan paradigma yang terbentuk oleh masing-masing individu. Namun yang menjadi persoalan adalah ketika perbedaan pemikiran ini menjadi pertentangan yang membentuk pola hubungan sosial yang destruktif. jika ini terjadi maka suatu komunitas sosial akan hancur dan akan dimanfaatkan oleh pihak ketiga, karena baik pihak kedua dan ketiga sedang terfokus pada pemenangan atas pemikirannya.

Oleh karena itu diperlukan suatu dialog untuk memecahkan persoalan tersebut. yang mana para pihak akan saling bertemu dan melakukan dialog sehingga akan teruji pemikiran mana yang benar. Hal ini hanya akan dapat terjadi jika rasa saling curiga antar golongan dapat dihilangkan serta menghapuskan sikap saling memprovokasi. selain diperlukan kondisi yang kondusif untuk dapat terlaksananya dialog ini. karena jika kondisi sudah penuh dengan tekanan maka dialog yang terajdi tidak akan efektif dan malah akan menajdi ajang untuk memamerkan ke-egois-an pemikiran masing-masing pihak.

tentu saja hal ini akan sulit karena masing-masing pihak memiliki kepentingannya sendiri-sendiri dan akan memperjuangkannya. Akan tetapi apabila dilihat konteksnya, dalam hal ini adalah konteks negara, maka yang harus dijadikan perspektif adalah masalah mengenaai kehidupan bersama dalam bangsa ini. Yang dimaksud bangsa dalam hal ini adalah wilayah Indonesia beserta seluruh kehidupan rakyatnya (agama, sosial, budaya,dsb.) sehingga untuk menjamin kehidupan yang harmonis dimana seluruh elemen bangsa ini dapat tumbuh dan berkembang sewajarnya dalam suasana kondusif tanpa ada pertentangan di dalam negeri, maka sudah seharusnya untuk dipakai pemikiran berdasarkan keterbukaan, penghormatan dan kearifan.

sikap benar sendiri, egoisme yang besar dan ekslusivime pemikiran hanya akan menjadi penyakit dalam perkembangan kemajuan pemikiran. Semuanya harus diuji agar ditemukan kebenaran pemikiran yang absolut...!!!